Rabu, 02 Januari 2008

Mahluk Misterius Menyelamatkan Nyawa Mereka


KEJADIAN ini terjadi saat ibuku pulang kuliah, bersama adik ibu. Iya, kisah ini memang sudah lama banget. Namun kejadian itu, bagi ibuku tetap berkesan sampai sekarang, meski ada kengerian tidak langsung yang menyangkut nyawa dia.

Begini, saat itu di stasiun kereta, mereka (ibu dan adiknya) hendak pulang kuliah. Mereka berjalan di batas jalur penumpang, sangat dekat dengan rel kereta, karena saat itu tidak ada kereta yang akan lewat. Namun tiba-tiba sebuah kereta express akan melesat lewat.

Lalu orang-orang di sekitar sudah berteriak-teriak memperingati mereka agar minggir, namun entah apa yang membuat mereka jadi buta dan tuli karena sama sekali tidak mendengar. Mereka masih saja saja jalan seakan tidak ada apa-apa.

Sangat aneh, aneh sekali, namun tidak diduga, secara bersamaan mereka melihat ke atas trowongan tua, ada sesuatu di sana. Makhluk itu berpakaian seperti petugas pembersih stasiun ,namun wajah orangnya sangat merah, merah padam, agak kehitaman, kurus dan hampir keliatan tulangnya.

Dia terlihat tanpa kaki, tapi menggunakan celana, seperti melayang. Tangan memegang sapu lidi dan serokan,lalu dia membanting-bantingkan sapu dan serokannya di atas terowongan. Sambil melotot dan melempar benda itu ke arah mereka.

Karena mendapat lemparan benda, meski cukup cukup jauh tapi seperti akan menghantam muka mreka,spontan ibu dan adiknya melompat lari menghindarinya. Dan saat mereka melompat itu, tiba-tiba kereta lewat dengan kencangnya.

Setelah kejadian itu, mereka seperti tersadar sekaligus bersukur dan selamatlah mereka. Setelah benar-benar sadar, mereka melihat kembali ke atas trowongan, dan orang itu ternyata sudah tidak ada! Siapa dia? Apa yang dilakukannya di atas sana?

Apa dia bekas pembersih stasiun yang mati di sini? Yang mereka berterimakasih karena telah diselematkan. (seperti dikisahkan lia)

Penampakan Beruntun di Rumah Baru


KISAH  ini terjadi sebelum aku memasuki masuk SMU, saat itu keluargaku pindah ke rumah kontrakan kami yang baru. Tepatnya di kawasan Jl. Ternate, Malang, Jatim. Rumahku terletak berseberangan dengan komplek pemakaman umum Kasin sisi barat.

Hari pertama kita usai memindahkan semua barang-barang dari rumah kami sebelumnya ke rumah yang baru sorenya sekitar pukul 17.30, kita semua bersih-bersih halaman luar rumah kami. Kemudian sekitar pukul 17.50 dari dalam rumah yang masih gelap, seperti ada yang memanggil namaku dua kalu.

Lalu tanpa pikir panjang aku segera masuk rumah melalui garasi samping sampai ruang keluarga lalu menuju ruang tamu hingga akhirnya aku keluar lagi baru tersadar dan bingung. Kira-kira siapa yang memanggilku tadi karena semua orang sedang sibuk bersih-bersih di luar rumah.

Tapi aku tidak ambil pusing dengan apa yang baru saja kualami. Setelah kita semua selesai bersih-bersih di luar, kita lanjut membersihkan gudang untuk memilah-milah mana barang yang harus dibuang atau yang masih bisa diperbaiki untuk kemudian bisa digunakan dari milik penghuni rumah sebelumnya. Satu diantaranya kita menemukan bel rumah antik jaman Jepang yang kita coba ternyata masih bisa berdentang.

Kemudian bel itu segera kita lakukan sedikit perbaikan lalu memasangnya di balik dinding gudang dan tombolnya di balik pagar dan kita coba berhasil. Setelah acara bersih-bersih kita selesai semua masuk ke rumah, tapi begitu pintu depan kututup dan belum sempat aku memalingkan diri menuju ruang keluarga, tiba-tiba bel rumah yang baru kita pasang berdentang tanpa ada yang menekan tombolnya.

Beberapa kejadian aneh aku lamat saat menghuni rumah baru kita ini. Bahkan selama sekitar delapan tahun kita tinggal, beberapa penampakah aneh selalu menyelimuti rumah ini. Bahkan lebih dari 10 kali ada penampakan aneh, meski tidak sangat menyeramkan.

Beberapa kejadian aneh itu, misalnya ada sosok Bapak tua berkumis tebal melengkung yang melototin aku waktu tiba-tiba terjaga di tengah malam dari balik pintu. Ada juga wanita berkerudung ungu yang berpapasan denganku dengan wajah gelap saat aku berajak keluar kamar.

Kemudian pernah juga ada kucing putih yang menatap diriku saat aku akan mematikan lampu kamar untuk tidur malam dan menghilang di bawah kolong ranjang. Bahkan lemari pakaianku yang tiba-tiba terbuka sendiri saat baru kumatikan lampu kamarku saat akan tidur. Belum lagi suara-suara gaduh di dalam kamarku seperti ada acara selamatan.

alu suara-suara aneh yang sering memanggilku, bahkan suatau ketika dengan jelas seperti suara omku yang memanggil, padahal aku sedang sendirian di rumah. (seperti dikisahkan joe)

Rabu, 26 Desember 2007

Misteri di Balik Sejarah Tahun Jawa


MENURUT Babad Jawa, sejak masa purbakala masyarakat di pulau Jawa sudah memiliki kebudayaan asli yang memperhitungkan ilmu perbintangan. Ilmu pengetahuan ini digunakan masyarakat pada jaman tersebut misalnya untuk bertani dan bercocok tanam serta untuk keperluan pelayaran. Ilmu ini dituangkan dalam Primbon Jawa yang termasuk di dalamnya yaitu Pawukon, Pranatamangsa, dan sebagainya.

Sekitar abad pertama masehi, masyarakat Jawa kedatangan pengaruh bangsa Hindu (India). Bersama dengan kebudayaan asli yang sudah ada, pengaruh kebudayaan Hindu ini menelurkan kebudayaan-kebudayaan baru.

Tahun Saka
Sejak abad ke-8 masehi, di Jawa sudah ada Kerajaan Hindu-Jawa yang menggunakan perhitungan waktu berdasarkan sistem kebudayaan asli, kebudayaan Hindu, dan kebudayaan baru. Perhitungan waktu pada masa itu telah menggunakan sistem angka tahun menurut Saka, terpengaruh kebudayaan Hindu.

Tahun Saka dihitung menurut perputaran matahari. Jumlah hari dalam sebulan pada tahun Saka berjumlah 30, 31, dan 32 atau 33 hari pada bulan terakhir, yaitu bulan Saddha. Sehingga setahun berjumlah 365 dan 366 hari, terbagi dalam 12 bulan.

Tahun Hijriah
Pengaruh kebudayaan Hindu yang sangat kuat di tanah Jawa akhirnya mendapat saingan dengan datangnya kebudayaan Islam. Pengaruh Islam semakin kuat sampai akhirnya pada abad ke-16 masehi Kerajaan Jawa mulai menggunakan sistem penanggalan Arab yang disebut Tahun Hijriah. Sistem penanggalan ini secara resmi digunakan oleh kerajaan Jawa Islam, tetapi sebagian masyarakat masih tetap menggunakan perhitungan Saka.

Tahun Hijriah adalah termasuk tahun Komariah, yaitu mengikuti perputaran bulan. Dalam satu tahun Hijriah berarti bulan mengitari bumi sebanyak 12 kali. Jumlah hari dalam sebulan pada tahun Hijriah berjumlah 29 dan 30 hari. Sehingga satu tahun Hijriah berjumlah 354 atau 355 hari (bulan Zulhijjah berumur 29 atau 30 hari).

Tahun Hijriah perlu diberlakukan di Jawa pada masa itu karena kerajaan-kerajaan Islam harus menyamakan kalender kerajaan dengan peringatan-peringatan penting dalam agama Islam. Pada masa itu, hari-hari besar Islam diperingati sebagai acara resmi kerajaan, misalnya Idul Fitri setiap tanggal 1 Syawal, Idul Adha setiap tanggal 10 Zulhijjah, dan Mauludan setiap 12 Rabi'ul Awal yang sampai saat ini selalu diperingati secara besar-besaran dalam acara Sekaten.

Tahun Jawa
Berdirinya kerajaan Mataram Islam memberi warna baru dalam sejarah penanggalan di Jawa. Tepatnya ketika pemerintahan Sri Sultan Agung Prabu Anyakrakusuma, ditetapkanlah pemberlakuan Tahun Jawa. Adapun sistem penanggalan Tahun Jawa adalah mengikuti penanggalan Hijriah, yaitu berdasarkan perputaran bulan, atau disebut Komariah.

Sistem penanggalan ini disepakati berlaku di seluruh wilayah Mataram, yaitu pulau Madura dan seluruh Jawa (kecuali Banten yang bukan kekuasaan Mataram). Hari itu Jum'at Legi tanggal 1 Muharram 1043 Hijriah bertepatan dengan tahun Saka 1555, dan tahun 1633 Masehi, ditetapkan sebagai awal Tahun Jawa 1555 (melestarikan peninggalan penanggalan Saka).

Ada tiga hal penting dalam pemberlakuan Tahun Jawa :
1) Mempertahankan kebudayaan asli Jawa dengan mewadahi Pawukon dan sebangsanya yang diperlukan dalam memperingati hari kelahiran orang Jawa, mengerti watak dasar manusia dan prediksi peruntungan menurut Primbon Jawa.

2) Melestarikan kebudayaan Hindu yang kaya akan kesusasteraan, kesenian, arsitektur candi dan agama. Hal ini sangat penting karena kebudayaan Hindu telah berhasil menghiasi dan memperindah budaya Jawa selama berabad-abad sebelumnya.

3) Menyelaraskan kebudayaan Jawa dengan kebudayaan Arab. Sistem penanggalan Tahun Jawa yang serupa dengan penanggalan Hijriah yaitu Komariah, akan memudahkan masyarakat Islam di Jawa untuk menjalankan ibadahnya berkaitan dengan hari-hari suci/besar Islam.

Dengan begitu, penanggalan Tahun Jawa mampu mengakomodasi tiga golongan utama masyarakat Jawa ketika itu, yaitu golongan orang Jawa kuno (asli), golongan masyarakat Hindu, dan golongan umat Islam. (Primbon Aji Saka dan dari sumber lain)

Hantu Wedhon Menghilang Tiba-tiba


PENGALAMAN melihat hantu mungkin ini yang paling membuat Sugeng Prayitno heran karena memang tidak masuk akal.

Memang ndak masuk akal habis kejadian bukannya saya takut eh malah kayak ada yang lucu. mau ikuti kisahnya?

Kisah ini terjadi waktu saya masih kelas 2 (SMP). Pada waktu itu malam Jum'at pukul 18.30 WIB sehabis sholat maghrib saya pulang dari masjid.

Jarak antara masjid sama rumah kira-kira 300 meter. di tengah jalan saya melihat kayak pocong kecil setelah saya amati terus menerus makin lama makin besar dan tinggi jangkung kira kira tingginya 3 meter. Tapi saya amati terus kok tambah makin tinggi.

Di waktu setengah heran dan penasaran saya teringat perkataan Orang Tua kalo melihat pocong putih kecil dan makin lama makin membesar di suruh segera meludah. Karena kalau keduluan setan itu meludahi kita kulit kita bisa busuk dan ndak bisa disembuhin. Hantu ini sering disebut Wedhon

Langsung aja aku meludah dan saya caci maki tuh setan. Eh ndak taunya tiba tiba menghilang. Yah begitulah salah satu pengalaman melihat setan hantu. Mau tau cerita yang lainnya tunggu yeach... (seperti dikisahkan Sugeng Prayitno)

Arsip Blog